Rabu, 04 Januari 2012

Menatap ekonomi 2012 dengan optimistis

Memasuki pekan pertama tahun 2012, dunia usaha di Indonesia menunjukkan antusiasme tinggi terhadap prospek bisnis sepanjang tahun ini terutama didorong oleh sejumlah data utama ekonomi nasional serta berkah dari disandangnya kembali status laik investasi (investment grade) setelah 14 tahun.
Berbagai lembaga menyebut tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang mencapai antara 6,4% sampai dengan 6,6% tahun lalu, sebagai salah satu yang paling tinggi di kawasan Asia Tenggara.
Pada kuartal terakhir 2011, pertumbuhan mencapai 6,5%, dan lagi-lagi, merupakan yang tertinggi di kawasan ASEAN, kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
"Ini memberikan spirit bagi kita bukan hanya mempertahankannya tapi meningkatkan lagi di tahun ini," kata Presiden saat memimpin sidang kabinet pertamanya tahun 2012, Selasa (3/1).
Meski masih berada di bawah Malaysia dan Thailand, angka pendapatan per kapita sudah berada sedikit di atas Filipina dan meningkat signifikan menjadi US$3.400.
Sementara inflasi, salah satu momok terbesar penghambat pertumbuhan, sepanjang tahun lalu di Indonesia berhasil dikendalikan pada satu angka sebesar 3,7%.
"Itu terendah di seluruh Asia Pasifik," kata Presiden Yudhoyono di depan jajaran menteri kabinetnya.
Puncak prestasi ekonomi Indonesia tahun lalu tercapai saat Fitch, lembaga pemeringkat paling dipercaya setelah Moody's dan Standard and Poor's, menyematkan kembali status Investment Grade pada pertengahan Desember.
"Di tengah situasi perekonomian global yang kurang menentu, krisis di sejumlah negara, banyak negara yang turun kredit ratingnya, Amerika Serikat sendiri juga turun," kata Presiden yang menyebut situasi ini sebagai posisi Indonesia yang mengalami 'kenaikan pangkat'.

Risiko berkurang

Ramalan dari dunia usaha juga cukup optimistis.
Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia, GAPPMI, memperkirakan pertumbuhan sektor ini tahun depan mencapai 10%, karena pada 2011 pertumbuhannya sudah melebihi 8%, jauh lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan sektor lain.
"Itu angka yang cukup moderat karena memang sejak tahun lalu saja minat investasi baru di sektor ini cukup tinggi," kata Adhi S Lukman, Ketua GAPPMI.
Penjajakan sudah dilakukan oleh sejumlah pelaku industri makanan/minuman olahan dari Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Cina, AS dan Australia, kata Adhi.
"Mereka sudah melakukan pendekatan intensif, saya rasa realisasinya akan berlangsung tahun ini," tambahnya.
Status laik investasi menurut Adhi juga menjadi pendorong ampuh bagi calon penanam modal luar negeri yang berniat membuka ladang usaha baru di Indonesia.
"Kalau S&P's dan Moody's juga menerbitkan status laik investasi untuk Indonesia, maka obligasi baik terbitan pemerintah maupun korporasi akan menjadi lebih berharga"
David Sumual
"Karena mereka sangat memperhatikan faktor country risk. Status ini kan berarti faktor risiko kita berkurang."
Dalam daftar peminat investasi 2012, muncul nama peritel asal Jerman, Metro Group, pemilik wholesale Metro Cash & Carry yang berencana membuka 20 gerai hypermarket baru mulai 2012-2015.
Sementara peritel Korsel yang sudah lebih dulu berkiprah di Indonesia, Lotte Shopping Company Limited, mengumumkan rencana membuka jaringan 100 bioskop baru dengan modal antara Rp2 hingga Rp3 triliun.
GAPPMI mengatakan sejumlah perusahaan makan/minum skala menengah dan besar juga berancang-ancang menerbitkan obligasi (surat utang) untuk memanfaatkan status baru laik investasi.
"Kalau S&P's dan Moody's juga menerbitkan status laik investasi untuk Indonesia, maka obligasi baik terbitan pemerintah maupun korporasi akan menjadi lebih berharga," kata David Sumual, ekonom Bank BCA.

Mendongkrak investasi

David memperkirakan kalau sebelumnya Surat Utang Negara (SUN) harus memberi imbal bunga sekitar 6% per tahun, maka kini angkanya bisa sedikit turun jadi sekitar 5%. Begitu pula di sektor swasta.
"Intinya kalangan ini melihat peluang bisa meraup lebih banyak dana dengan membayar bunga imbal hasil (yield) lebih rendah,"tambah David.
Infrastruktur di Indonesia
Risiko usaha berkurang di Indoensia membuat banyak perusahaan berminta menerbitkan obligasi.
Harian bisnis Kontan menulis sedikitnya ada sembilan perusahaan yang berniat meraup dana dari pasar obligasi tahun 2012, antara lain BRI Syariah, Perum Peruri dan kelompok usaha Bakrie.
David Sumual menilai minat terhadap investasi paling besar masih akan tertuju pada sektor-sektor tradisional seperti sektor bahan mentah (resources), domestik dan infrastruktur.
"Resources jelas termasuk batu bara dan pertambangan, domestik ya seperti industri makan/minum itu."
Pengalaman India menunjukkan sejak diganjar dengan predikat investment grade tahun 2007, investasi dari modal asing naik lima kali lipat menjadi US$30 miliar per tahun.
Situasi serupa terjadi di Brasil dimana nilai investasi asing naik dua kali lipat menjadi US$40 miliar per tahun sejak status diraih tahun 2008.
Di Indonesia, tahun lalu diperkirakan investasi asing mencapai sekitar US$15-18 miliar.
Dan tahun ini, menurut Menteri Prencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas, Armida Alisyahbana, angka investasi harus naik dari 8,1% (2011) menjadi 11,5% untuk 2012.
Kenaikan itu akan menjadi syarat untuk menopang ambisi pertumbuhan hingga 6,7% seperti disyaratkan pemerintah.
--------------------------------------

0 komentar:

Poskan Komentar