Jumat, 06 Januari 2012

PASAR DAN PEMASARAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

“Kemudian Kami Jadikan kamu berada didalam suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui” (QS Al-Jatsiyah: 18).

Saat ini Syariah telah menjadi perbincangan oleh banyak kalangan. Bahkan sebagiannya telah menjadi alternatif yang nyata dirasakan oleh kita, terutama dalam bidang ekonomi yaitu ekonomi Islam yang diterapkan suatu negara. Disamping memberikan manfaat universal di berbagai aspek kehidupan, syariah diyakini akan menyelamatkan manusia dari kehidupan yang semakin materialistis.
Kata “syariah” (al-syari’ah) telah ada dalam bahasa Arab sebelum turunnya Al-Quran. Kata yang semakna dengannya juga ada dalam Taurat dan Injil. Kata syari’at dalam bahasa Ibrani disebutkan sebanyak 200 kali, yang selalu mengisyaratkan pada makna kehendak Tuhan yang diwahyukan sebagai wujud kekuasaan-Nya atas segala perbuatan manusia.
Firman Allah SWT dalam Al-Quran Surat Al-Jatsiyah yang artinya, “Kemudian Kami Jadikan kamu berada didalam suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui” (QS Al-Jatsiyah: 18).
Kata syariah berasal dari kata syara’a al-syari’a yang berarti menerangkan atau menjelaskan sesuatu. Atau berasal dari kata syir’ah dan syari’ah yang berarti suatu tempat yang dijadikan sarana untuk mengambil air secara langsung sehingga orang yang mengambilnya tidak memerlukan bantuan alat lain (http://elqorni.wordpress.com/dasar-marketing-syariah/)..
Syaikh Al-Qardhawi mengatakan, cakupan dari pengertian syariah menurut pandangan Islam sangatlah luas dan komprehensif (al-syumul). Didalamnya mengandung makna mengatur seluruh aspek kehidupan, mulai dari aspek ibadah (hubungan manusia dengan Tuhannya), aspek keluarga (seperti nikah, talak, nafkah, wasiat, warisan), aspek bisnis (perdagangan, industri, perbankan, asuransi, utang-piutang, pemasaran, hibah), aspek ekonomi (permodalan, zakat, bait al-maal, fa’i, ghanimah), aspek hukum dan peradilan, aspek undang-undang hingga hubungan antar negara.
Ekonomi yang diatur secara islami apabila diterapkan dengan disiplin maka tidak akan pernah ada praktek-praktek yang tidak sehat dalam bisnis karena Rasulullah SAW sudah melarangnya sejak awal.
Pergeseran dari ekonomi konvensional ke ekonomi syariah menarik untuk dicermati. Kita berharap, ini bukan sekedar tren yang suatu saat akan redup manakala ada tren baru dalam ekonomi nasional. Ekonomi syariah menjadi tenggelam dan kenangan yang manis dalam ingatan kita. Ekonomi syariah di Indonesia dipelopori oleh Bank Muamalat yang beroperasi Sejak tahun 1992. Perkembangannya menyentuh bidang-bidang antara lain asuransi, pembiayaan, hotel, pasar modal dan berbagai aspek lainnya. Yang menarik, sejak krisis ekonomi yang melanda Indonesia di tahun 1997, Bank Syariah mampu bertahan hidup dibanding bank-bank konvensional yang sudah terimbas krisis (http://sigitwahyu.net/kembali-kepemasaran-spiritual).
Perkembangan ekonomi syariah sendiri mampu mengembalikan nilai-nilai Islam di tengah-tengah kehidupan perekonomian masyarakat kita. Dalam berbisnis telah muncul kesadaran akan pentingnya etika, kejujuran dan prinsip-prinsip Islam lainnya. Rasulullah sendiri telah memberikan contoh kepada kita, tentang cara-cara berbisnis yang berpegang teguh pada kebenaran, kejujuran, sikap amanah serta tetap memperoleh keuntungan. Nilai-nilai inilah yang menjadi landasan atau hukum dalam melakukan suatu bisnis. Rasulullah adalah profile kesuksesan dalam melakukan spititualisasi pemasaran.
Para ahli mengatakan, bahwa pasar merupakan tempat pertemuan antara penjual dan pembeli, atau saling bertemunya antara kekuatan permintaan dan penawaran untuk membentuk suatu harga (Umar, 2005:35).
Banyak yang mengatakan pasar syariah adalah pasar yang emosional (emotional market) sedangkan pasar konvensional adalah pasar yang rasional (rational market). Maksudnya orang tertarik untuk berbisnis pada pasar syariah karena alasan-alasan keagamaan (dalam hal ini agama Islam) yang lebih bersifat emosional, bukan karena ingin mendapatkan keuntungan financial yang bersifat rasional. Sebaliknya, pada pasar konvensional atau non-syariah, orang ingin mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, tanpa terlalu peduli apakah bisnis yang digelutinya tersebut mungkin menyimpang atau bahkan bertentangan dengan ajaran agama (Islam).
Seorang kiai yang juga pakar ekonomi syariah dan anggota Dewan Pengawas Syariah dari beberapa bank dan asuransi syariah, K.H.Dr.Didin Hafidhudin mengatakan bahwa orang-orang yang ada dipasar syariah justru sebenarnya sangat rasional dalam menentukan pilihan. Beliau juga mengatakan, orang yang berada dalam kategori pasar emosional biasanya lebih kritis, lebih teliti dan sangat cermat dalam membandingkan dengan bank atau asuransi konvensional yang selama ini digunakannya sebelum menentukan pilihannya ke pasar syariah (http://elqorni.wordpress.com/dasar-marketing-syariah).
Perilaku konsumen tidak terlepas dari pergerakan pasar karena hubungan konsumen dan produsen dalam pasar saling berhubungan satu sama lain. Kita mengenal kaidah ini dalam hukum penawaran dan permintaan, biasa disebut dengan istilah supply dan demand. Setiap pergerakan supply dan demand yang berubah akan mempengaruhi tingkat harga. Ini berkaitan erat dengan motif konsumen meminta dan motif produsen menawar. Dalam demand konsumen, bila demand meningkat sedangkan jumlah komoditi konstan, harga akan meningkat. Ketika ini terjadi, produsen akan memperbanyak produksinya. Kemudian dalam supply, apabila supply menngkat, sementara demand rendah atau konstan, harga akan jatuh (Muflih, 2006:39).
Pasar dalam perspektif ekonomi Islam berbeda dengan yang ada pada ekonomi konvensional. Karena sasaran yang hendak dicapai dari pergerakan pasar adalah kebahagiaan bagi semua manusia, dalam hal ini terdiri dari konsumen dan produsen, tanpa mencederai suatu pihak manapun. Kebahagiaan adalah keinginan semua manusia, dia akan dicapai manakala manusia itu mampu membatasi dirinya terhadap bentuk-bentuk kemungkaran.
Dalam ekonomi Islam mempunyai aturan khas dalam supply dan demand. Pasar yang mewadahi interaksi supply dan demand hanya untuk jenis komoditi yang halal saja. Komoditi haram, apapun bentuk dan sifatnya, sama sekali dilarang untuk diperjualbelikan. Dalam demand, konsumen diajarkan untuk berbelanja pada jenis barang yang dibutuhkan. Jumlah yang dibeli juga tidak boleh melebihi batas kewajaran. Hal ini menghindarkan konsumen dari kebiasaan ishraf (berlebihan). Dalam supply, produsen hanya memproduksi barang dalam kapasitas yang dibutuhkan konsumen. Produsen selalu menghindari upaya yang mengakibatkan terkurasnya cadangan sumber daya alam, kerusakan alam, termasuk upaya merugikan konsumen maupun produsen sendiri. Supply yang berlebihan akan merugikan alam dan produsen, karena alam yang tereksploitasi dengan cara yang tidak baik dan menghancurkan masa depan kehidupan manusia, dan juga menyebabkan biaya produksi akan tidak tertutupi dengan harga yang jatuh.
Batasan-batasan tersebut menimbulkan banyak manfaat. Pertama, sumber daya alam (SDA) akan termanfaatkan dengan baik. Konsumen yang berkonsumsi sesuai kebutuhan dan produsen yang berproduksi sesuai kapasitas kebutuhan konsumen akan menghemat penggunaan SDA sehingga alam akan masih menyimpan kekayaan dan perlahan-lahan menumbuhkan kembali kesuburannya. Kedua, alam akan tetap terpelihara kelestariannya karena mineral tidak cepat habis, hutan tidak gundul, dan habitat-habitat alam masih dapat tumbuh dan berkembang biak dengan baik. Ketiga, hal ini berkaitan dengan permainan harga, antara produsen dan konsumen tidak akan saling menjatuhkan dan merugikan dalam melakukan aktivitas ekonomi.
Pemasaran dan Pemasaran Syari’ah
Istilah Pemasaran (Marketing), sudah sangat dikenal di kalangan pebisnis. Marketing memiliki peran penting dalam peta bisnis suatu perusahaan dan berkontribusi terhadap strategi produk. Perusahaan baik berskala nasional ataupun internasional membutuhkan seorang marketer yang handal untuk memasarkan produk atau jasa. Keberhasilan suatu produk diterima oleh target pasar tidak hanya ditentukan oleh murahnya cost atau kualitas yang ditawarkan, namun sangat ditentukan juga oleh strategi pemasaran yang dilakukan.
Dalam konsep Pemasaran Konvensional sekarang ini yang diperhatikan adalah bagaimana agar produk baru dikenal oleh sasaran pasar dan diterima demikian juga produk yang sudah ada, dengan mementingkan sisi keuntungan produk saja, sehingga para marketer atau yang bergelut dalam bidang marketing dan promosi dituntut untuk berfikir mencari cara dalam menarik minat dan perhatian sasaran pasar dengan meramu kreatifitas, baik dengan menggunakan gambar ataupun pengolahan kata, lalu memberikan pengaruh terhadap semua ide-idenya agar sasaran pasar tertarik lalu mengambil keputusan untuk membeli.
Pemasaran adalah suatu proses sosial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
Pemasaran dalam Islam adalah bentuk muamalah yang dibenarkan dalam Islam, sepanjang dalam segala proses transaksinya terpelihara dari hal-hal terlarang oleh ketentuan syariah.
Syariah marketing adalah sebuah disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran dan perubahan value dari suatu inisiator kepada stakeholders-nya, yang dalam keseluruhan prosesnya sesuai dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah (bisnis) dalam Islam (Kertajaya dan Sula, 2006:26). .
Hal ini berarti bahwa dalam syariah marketing, seluruh proses, baik proses penciptaan, proses penawaran, maupun proses perubahan nilai (value), tidak boleh ada hal-hal yang bertentangan dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah yang Islami. Sepanjang hal tersebut dapat dijamin, dan penyimpangan prinsip-prinsip muamalah Islami tidak terjadi dalam suatu transaksi apapun dalam pemasaran dapat dibolehkan.
Islam memandang bahwa pemasaran sebagai jual beli yang harus dipajang dan ditunjukkan keistimewaan-keistimewaannya dan kelemahan-kelemahan dari barang tersebut agar pihak lain tertarik membelinya.
Firman Allah SWT dalam al-Qur’an, yang artinya: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memerikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah:111)
Dalam sebuah hadits juga disebutkan: “Ketahuilah bahwa surga adalah barang dagangan Allah, dan ketahuilah bahwa barang-barang dari surga mahal harganya.” (HR. at-Tirmidzi) 
Karakteristik Pemasaran Syari’ah (Syariah Marketing)
Ada empat karakteristik syariah marketing yang dapat menjadi panduan bagi para pemasar diantaranya:
1. Teistis (rabbaniyyah): jiwa seorang syariah marketer meyakini bahwa hukum-hukum syariat yang teistis atau bersifat ketuhanan ini adalah yang paling adil, paling sempurna, paling selaras dengan segala bentuk kebaikan, paling dapat mencegah segala bentuk kerusakan, paling mampu mewujudkan kebenaran, memusnahkan kebatilan dan menyebarluaskan kemaslahatan.
2. Etis (akhlaqiyyah): Keistimewaan lain dari syariah marketer selain karena teistis (rabbaniyyah) juga karena ia sangat mengedepankan masalah akhlak (moral dan etika) dalam seluruh aspek kegiatannya, karena nilai-nilai moral dan etika adalah nilai yang bersifat universal, yang diajarkan oleh semua agama.
3. Realistis (al-waqiyyah): Pemasaran syariah adalah konsep pemasaran yang fleksibel, sebagaimana keluasan dan keluwesan syariah Islamiyah yang melandasinya. Pemasar syariah adalah para pemasar professional dengan penampilan yang bersih, rapi dan bersahaja, apapun model atau gaya berpakaian yang dikenakannya, bekerja dengan mengedepankan nilai-nilai religius, kesalehan, aspek moral dan kejujuran dalan segala aktivitas pemasarannya.
4. Humanistis (insaniyyah):Keistimewaan syariah marketer yang lain adalah sifatnya yang humanistis universal, yaitu bahwa syariah diciptakan untuk manusia agar derajatnya terangkat, sifat kemanusiaannya terjaga dan terpelihara. Syariat Iislam diciptakan untuk manusia sesuai dengan kapasitasnya tanpa menghiraukan ras, warna kulit, kebangsaan dan status. Hal inilah yang membuat syariah memiliki sifat universal sehingga menjadi syariah humanistis universal.
Strategi Pemasaran
1. Pembuatan Sasaran Pemasaran
Menurut Bygrave (1996), sasaran pemasaran harus dinyatakan bagi setiap pasar sasaran dalam segi penjualan, kontribusi laba, dan tujuan kualitatif lainnya, seperti membangun citra. Sasaran yang dimaksud dibagi dalam dua kelompok, yaitu sasaran prestasi pasar dan sasaran penunjang pemasaran. Sasaran prestasi pasar dimaksudkan untuk hasil yang lebih spesifik seperti penjualan dan laba. Sedangkan sasaran penunjang pemasaran untuk tugas yang menunjang hasil prestasi akhir seperti membangun kesadaran pelanggan dan ikut serta dalam upaya pendidikan.
2. Formulasi Strategi Pemasaran
Untuk memulai usaha baru yang target pasarnya adalah untuk kalangan menengah ke atas, petunjuk dan kebijakan yang mendasari strategi pemasaran lebih diorientasikan pada pembentukan citra kualitas terbaik. Diantaranya:
• Penetapan harga yang tinggi dan rentang (perbedaan harga tertinggi dan terendah) yang sempit guna memberikan citra yang eksklusif.
• Produk ditetapkan untuk menawarkan standar kualitas dan pelayanan yang sangat spesial beserta cakupan garansi yang istimewa.
• Penggunaan media dan isi iklan yang membangkitkan citra eksklusif dan berkualitas tinggi.
Untuk membangun sebuah strategi pemasaran yang efektif, suatu perusahaan menggunakan variabel-variabel bauran pemasaran. (marketing mix), yang terdiri atas:
• Produk (product): barang/jasa yang ditawarkan
• Harga (price) yang ditawarkan
• Saluran distribusi (placement) yang digunakan (grosir, distributor, pengecer) agar produk tersebut tersedia bagi para pelanggan.
• Promosi (promotion) : iklan, personal selling, promosi penjualan, dan publikasi.
Implementasi syariah dalam variabel-variabel bauran pemasaran dapat dilihat, misalnya pada produk, barang, dan jasa yang ditawarkan adalah yang berkualitas atau sesuai dengan yang dijanjikan. Pada variabel harga, terhadap pelanggan akan disajikan harga yang kompetitif. Pada saluran distribusi, pebisnis muslim sekali-kali tidak akan pernah melakukan tindak kedzaliman terhadap pesaing lain. Pada promosi, pebisnis muslim juga akan menghindari iklan porno, bohonh, dan promosi yang menghalalkan segala cara.
3. Perumusan Program Pemasaran
Merumuskan program pemasaran bagi suatu pasar sasaran terdiri atas langkah berikut:
a) Menentukan seberapa besar anggaran pemasarannya
b) Mengalokasikan anggaran tersebut ke dalam variabel-variabel bauran pemasaran dari perusahaan
c) Menentukan penggunaan sumber daya yang terbaik bagi setiap variabel bauran pemasaran.
4. Keputusan Taktis-Strategi Pemasaran
Formulasi strategi pemasaran berakhir dengan ditetapkannya keputusan taktis-strategis yang memberikan kerangka kerja yang luas dan berjangka panjang (setahun atau lebih) bagi tindakan pemasaran. Keputusan ini menjadi keputusan fundamental yang memberi petunjuk tindakan pemasaran sehari-hari. Keputusan tersebut terdiri atas:
a) Keputusan produk
b) Keputusan penetapan harga
c) Keputusan distribusi
d) Keputusan promosi
F. Konsep Syariah Marketing
Syariah Marketing merupakan solusi terhadap kebutuhan pasar yang memimpikan penerapan bisnis yang sesuai dengan nilai dan kaidah agama. Ada empat hal yang menjadi Key Success Factors (KSF) dalam mengelola suatu bisnis, agar mendapat celupan nilai-nilai moral yang tinggi. Untuk memudahkan mengingat, kita singkat dengan SAFT, yaitu:
1) Shiddiq (benar dan jujur), jika seorang pemimpin senantiasa berperilaku benar dan jujur dalam sepanjang kepemimpinannya, jika seorang pemasar sifat shiddiq haruslah menjiwai seluruh perilakunya dalam melakukan pemasaran, dalam berhubungan dengan pelanggan, dalam bertransaksi dengan nasabah, dan dalam membuat perjanjian dengan mitra bisnisnya.
2) Amanah (terpercaya, kredibel) artinya, dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan kredibel, juga bermakna keinginan untuk untuk memenuhi sesuatu sesuai dengan ketentuan. Diantara nilai yang terkait dengan kejujuran dan melengkapinya adalah amanah.
3) Fathanah (cerdas), dapat diartikan sebagai intelektual, kecerdikan atau kebijaksanaan. Pemimpin yang fathanah adalah pemimpin yang memahami, mengerti dan menghayati secara mendalam segala hal yang menjadi tugas dan kewajibannya.
4) Thabligh (komunikatif), artinya komunikatif dan argumentatif. Orang yang memiliki sifat ini akan menyampaikannya dengan benar dan dengan tutur kata yang tepat (bi al-hikmah). Berbicara dengan orang lain dengan sesuatu yang mudah dipahaminya, berdiskusi dan melakukan presentasi bisnis dengan bahasa yang mudah dipahami sehingga orang tersebut mudah memahami pesan bisnis yang ingin kita sampaikan.
Keempat KSF ini merupakan sifat-sifat Nabi Muhammad Saw yang sudah sangat dikenal tapi masih jarang diimplementasikan khususnya dalam dunia bisnis.
Sejalan dengan sifat yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam berbisnis, ada 3 konsep dasar dalam syariah marketing ini yakni :
a. Strategi untuk mind-share, yang berarti cara berfikir secara kreatif, inovatif dan bijaksana dalam mencari ide untuk memasarkan suatu produk atau jasa.
b. Taktik untuk market share, yakni bagaimana usaha kita dalam mempengaruhi sasaran pasar melalui tulisan, gambar atau ucapan yang baik dan santun.
c. Value to heart, pemasaran yang dilandaskan pada nilai-nilai agama dan dilaksanakan dengan sepenuh hati dalam segala transaksi hingga mampu memuaskan konsumen dan stake holder.
Selain 3 Konsep dasar dalam Marketing Syariah, terdapat karakteristik dalam marketing Islami ini, antara lain:
1. Mencintai konsumen
Konsumen adalah seorang raja yang harus dihormati. Berdasarkan konsep syariah, seorang marketer harus mencintai konsumen sebagaimana layaknya mencintai diri sendiri. Layani calon konsumen dan pelanggan dengan sepenuh hati.
2. Jadikan Jujur dan Transparan sebuah brand
Saat memasarkan sebuah barang, ungkapkanlah kelemahan serta keuntungan dari produk tersebut. Dalam marketing konvensional hanya mengungkapkan sisi kelebihan produk sedangkan kelemahan produk tidak ditampilkan. Pemasaran jenis ini akan membahayakan konsumen sebagai pemakai yang pada akhirnya akan berdampak pada citra buruk bagi perusahaan. Jadi orang membeli karena butuh dan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan, bukan karena diskonnya.
3. Segmentasi Pasar Sistemnya Nabi
Berikan good value untuk barang yang dijual. Rasulullah mengajarkan segmentasi, barang bagus dijual dengan harga bagus (tinggi) dan barang dengan kualitas lebih rendah dijual dengan harga yang lebih rendah.
4. Penuhi Janji
Nilai sebuah produk harus disesuaikan dengan apa yang dijanjikan. Hal ini akan menjamin kepuasan pelanggan.
5. Menjaga Keseimbangan Alam
Orang berbisnis itu harus menjaga kelangsungan alam, tidak merusak lingkungan. Berbisnis juga ditujukan untuk menolong manusia yang miskin dan bukan menghasilkan keuntungan untuk segelintir orang saja.
Menurut Hermawan Kartajaya (pakar dan Guru Marketing) bahwa syariah marketing sangat baik diterapkan dalam peta bisnis di Indonesia dan dia akan bertahan, karena prinsip dasarnya adalah kejujuran. Ini yang dibutuhkan oleh semua orang.
Sembilan Etika (Akhlak) Pemasar
Ada sembilan etika pemasar, yang akan menjadi prinsip-prinsip bagi syariah marketer dalam menjalankan fungi-fungsi pemasaran, yaitu:
1. Memiliki kepribadian spiritual (takwa)
2. Berprilaku bail dan simpatik (Shidq)
3. Berprilaku adil dalam bisnis (Al-Adl)
4. Bersikap melayani dan rendah hati (Khidmah)
5. Menepati janji dan tidak curang
6. Jujur dan terpercaya (Al- Amanah)
7. Tidak suka berburuk sangka (Su’uzh-zhann)
8. Tidak suka menjelek-jelekkan (Ghibah)
9. Tidak melakukan sogok (Riswah)
Etika Dalam Fungsi Pemasaran
Dalam bisnis Islami sangat mengedepankan adanya konsep rahmat dan ridha, baik dari penjual pembeli, sampai dari Allah SWT. Dengan demikian, aktivitas pemasaran harus didasari pada etika dalam pemasarannya. Beberapa kiat dan etika Rasulullah SAW dalam membangun citra dagangannya adalah:
1) Penampilan
Penampilan dagang Rasulullah SAW adalah tidak membohongi pelanggan, baik menyangkut besaran ( kuantitas ) maupun kualitas.
2) Pelayanan
Pelanggan yang tidak sanggup membayar kontan hendaknya diberi tempo untuk melunasinya, selanjutnya pengampunan (bila memungkinkan) hendaknya diberikan jika ia benar dan sanggup membayarnya.
3) Persuasi
Menjauhi sumpah yang berlebihan dalam menjual suatu barang.
4) Pemasaran. Hanya dengan kesepakatan bersama. Dengan suatu usulan dan penerimaan, penjualan akan sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
Karim, Adiwarman Aswar. 2001. Ekonomi Islam Suatu Kajian Kontemporer. Jakarta: Gema Insani Press.
Kertajaya, Hermawan dan M. Syakir Sula. 2006. Syariah Marketing. Bandung: Mizan
Muflih, Muhammad. 2006. Perilaku Konsumen dalam Perspektif Ilmu Ekonomi Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Umar, Husein. 2005. Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Yusanto, M. Ismail dan M.K. Widjajakusuma. 2002. Menggagas Bisnis Islami. Jakarta: Gema Insani Press.
http://elqorni.wordpress.com/dasar-marketing-syariah/ahmad-kurnia/ diakses tanggal 06 Desember 2008.
http://fadliyanur.blogspot.com/etika-bisnis-islam/fadliyanur/ diakses tanggal 06 Desember 2008.
http://sigitwahyu.net/kembali-ke-pemasaran-spiritual/mochammad-sigit-wahyu-kurnianto/ diakses tanggal 06 Desember 2008.
http://id.wordpress.com/tag/artikel-bisnis/ diakses tanggal 09 Desember 2008.
---------------------------------------------------
Pandangan Islam terhadap Pasar dan Pemasaran
Gambar: love-islam

0 komentar:

Poskan Komentar